Kamis, 23 Juli 2026

Cara Membuat Handsock dari Leging


Bila di rumah saya lebih suka memakai kaos lengan pendek, celana training, dan kerudung instan. Saat ada keperluan mendadak dan hanya sebentar biasanya saya ambil jaket untuk menutup kaos lengan pendek. Sat-set, pergi sebentar, lalu pulang. Lepas jaket, kembali ke setelan awal. Hehehe.


Kadang-kadang terasa gerah kalau keluar rumah mengenakan jaket. Saya memakai handsock atau manset panjang. Namun beberapa waktu terakhir saya kehilangan jejak handsock. Lenyap begitu saja. Mungkin dipindah anak atau suami. Handsock niasanya saya jadikan satu dengan ciput agar mudah mencari.


Karena nggak ada handsock, saya harus beli atau membuat dari kain kerudung yang sudah tidak terpakai. Hanya saja kendalanya mesin jahit lama tidak terpakai. Bau tikus, mesin seret, kabel dinamo dikerikiti tikus. Bahaya bahaya.....! Harus jahit manual pakai tangan. Kalau begini malasnya kambuh. 


Aha.... saya jadi ingat leging hitam milik anak perempuan sudah bolong sana sini. Mau dibuang rasanya masih sayang. Kalau nggak dibuang juga cuma memenuhi lemari. Ini bisa untuk membuat handsock. Mari kita buat.....


Pertama-tama siapkan bahan dan alatnya:

Leging usang,

Benang,

Elastik

Gunting,

Jarum.


Langkah-langkah:

1. Siapkan leging, lipat. 

2. Ukur panjang leging dari bagian bawah sampai paha seukuran panjang lengan dari punggung tangan sampai ketiak.

3. Potong leging, lalu rapikan lebar (sisi) leging sesuai kebutuhan dengan mengurangi kain yang tak terpakai.

4. Jahit sisi yang yang terpotong

5. Sisi bagian ketiak dijahit dan diberi tempat untuk memasang elastik.

6. Pasang elastik dengan ukuran sesuai kebutuhan.

Handsock siap digunakan. Handsock juga saya pakai saat salat memakai mukena potong tidak berlengan agar sempurna dalam menutup aurat. Biasanya kalau salat pakai mukena potong tidak berlengan, saya harus memakai pakaian/kaos lengan panjang. Kalau pakai mukena terusan, aurat otomatis tertutup kecuali muka dan telapak tangan. Jadi nggak perlu pakai handsock kalau mengenakan kaos pendek. Intinya saat salat lengan tertutup sampai pergelangan tangan.

00000

Rabu, 22 Juli 2026

Cek Kesehatan Bagi Calon Pengantin Perempuan


Remaja zaman sekarang yang sudah siap untuk menikah sebagian sudah mulai mempersiapkan fisik dan mental. Daripada sibuk memikirkan pakai gaun apa, tempatnya di mana, katering, fotografer, perias, jumlah undangan dan lain-lain, mereka justru menomorsatukan kesehatan.


Mereka (calon pengantin perempuan) mulai mengkonsumsi vitamin, tablet tambah darah, asam folat, makanan bergizi, dan lain-lain. Selain itu juga siap menerima vaksin sebelum menikah, di antaranya vaksin tetanus, vaksin kanker serviks, toksoplasma, dan lain-lain. Sepertinya mereka sudah siap untuk memiliki anak setelah menikah alias tidak menunda momongan. Ketika usaha untuk sehat sudah dilakukan, lalu pasrah pada Yang Maha Hidup. 


Tahap-tahap yang harus dilalui bagi calon pengantin (catin) diawali dengan catin laki-laki mengumpulkan dokumen yang diperlukan lalu ke kantor KUA. Setelah mendapatkan dokumen dari KUA lalu diteruskan catin perempuan mendaftarkan rencana menikah ke KUA. Namun, ada syarat yang harus dipenuhi sebelum menikah pada hari yang telah ditentukan. Yakni cek kesehatan bagi catin laki-laki dan perempuan. Di antaranya narkoba, HIV, kehamilan (bagi perempuan).  Cek kesehatan dilakukan di Puskesmas yang telah ditunjuk.


Dengan cek kesehatan ini, sejak dini diketahui hasilnya dan bermanfaat untuk ibu hamil dan bayinya.  Sebab, catin perempuan yang akan merasakan dampak bila hasil cek kesehatan tidak sesuai dengan yang diharapkan.


Untuk itu sejak dini benar-benar jaga kesehatan, konsumsi makanan, pergaulan, dan semua berlandaskan agama. Insya Allah semua akan baik-baik saja dan catin siap secara fisik, mental, dan finansial saat mau menikah.


00000


Rabu, 15 Juli 2026

Masa Tua di Panti Jompo


Hari Selasa kemarin saya kedatangan teman lama. Kami biasa saling berkunjung. Kebetulan dia mau menjemput anaknya. Jadi, masih ada waktu untuk ngobrol. Teman saya memiliki 2 anak. Yang besar sudah menikah dan punya 2 orang anak. Yang kecil kelas 1 SMA. Anak saya uang besar adik kelas anak teman saya. Yang kecil satu sekolah dengan anaknya.


Obrolan kami macam-macam, terutama soal menyiapkan diri untuk "pulang kampung" akhirat dengan banyak beramal. Usia mulai menua, kini mikirnya tentang akhirat. Kesenangan di dunia hanya sementara. Kelak anak-anak juga akan berkeluarga dan meninggalkan kita.


"Bu, besok kalau tua aku pingin hidup di panti jompo. Tidak merepotkan anak, tapi tidak sendiri di rumah. Aku tahu, pasti banyak yang kontra. Di panti jompo aku bisa bantu-bantu apa yang bisa kulakukan."

"Ho o. Apik wae. Cuma, anak-anak mengizinkan atau tidak."

"Ikut anak itu beda kalau berada di rumah sendiri. Ikut anak, ada menantu. Mertua-menantu dalam satu rumah kebanyakan ada gesekan, apalagi dengan menantu perempuan. Tapi di rumah sendiri, kalau ada apa-apa kadang tidak ada yang menolong. Beberapa kisah nyata; orang tua/lansia membusuk di rumah, meninggal setelah beberapa hari baru ketahuan, dan lain-lain. Kalau di panti jompo minimal ada temannya."

"Kalau masih sehat dan bisa berkarya juga bisa melakukan aktivitas yang menghasilkan uang. Berkebun dan beternak ayam."


Saya jadi ingat seorang perempuan penulis terkenal. Dia tinggal di panti jompo, anaknya berada di luar. Dia sendiri yang menginginkan berada di panti jompo. Secara materi berlebih. Di panti jompo semata-mata ingin berada di tempat yang nyaman, komunitas sama (lansia) dan dapat berbagi manfaat.


Menurut saya tidak masalah menua di panti jompo. Sebab. Hidup ini adalah pilihan. Abaikan orang lain yang tidak sependapat. Bila itu membuatmu nyaman, lakukan. Kelak kalau tak lagi nyaman masih ada pilihan lainnya.


"Kalau di rumah sendiri, harus ada yang menemani. Paling tidak ada yang mengunjungi pada jam-jam tertentu dan memastikan kita baik-baik saja."

"Ada artis lajang yang ingin menua di panti jompo. Namanya siapa ya."

Saya gercep, gugling. 

"Putri Patricia."

"Ho o."


00000

Senin, 13 Juli 2026

Usia 50+ Periksa Rutin Sebulan Sekali

 


www.noerimakaltsum.com Alhamdulillah, sampai saat ini saya dan suami diberikan umur panjang dan sehat. Semoga para pembaca juga demikian. Seperti biasa saya menulis tentang keseharian kami di rumah. Kali ini tentang kesehatan untuk pra lansia.


Suami saya memiliki riwayat penyakit hipertensi sejak tahun 2019. Seingat saya pertama terkena hipertensi pemicunya adalah kurang istirahat tidur. Seharian bekerja lalu dilanjutkan menjadi panitia kejurnas badminton hingga malam hari tanpa istirahat. Tensi naik. Akhirnya curi-curi waktu untuk istirahat saat berada di GOR.


Syukur alhamdulillah, pelan-pelan tensi normal setelah mencoba minum air labu siam dan obat dari dokter. Selanjutnya suami rutin kontrol ke dokter keluarga.


Tahun 2019 akhir, saya dan suami melakukan pemeriksaan kesehatan/cek kesehatan secara menyeluruh. Cek Urin, darah, rontgen, periksa jantung, dan lain-lain. Cek kesehatan ini wajib dilakukan karena mau berangkat haji ke tanah suci. Alhamdulillah, kondisi kesehatan saya baik. Hanya perlu olahraga ringan misalnya jalan kaki atau senam. Nah, hasil cek kesehatan suami terutama untuk jantung ada sedikit masalah. Suami harus periksa dan kontrol rutin ke rumah sakit. Beberapa bulan berjalan dan perkembangannya alhamdulillah sehat.


Dari tahun 2019 sampai sekarang suami rutin periksa ke dokter keluarga tiap 10 atau 20 hari sekali. Saya sering ikut menemani. Suatu saat dokter keluarga bertanya pada saya mengapa tidak sekalian periksa. Meskipun tidak sakit, untuk usia 50+ sebaiknya periksa rutin. Ya, sekadar tahu tekanan darah. Karena usia 50+ juga rentan mengalami darting alias darah tinggi. 


Akhirnya saya periksa juga. Dokter juga menanyakan apakah ada keluhan misalnya sering pusing, tiba-tiba pingsan, nyeri, dan lain-lain. Selama ini aman. Biasanya pusing karena kurang tidur atau flu. Selain itu tidak.


Suami tiap 6 bulan sekali cek urin dan darah untuk mengetahui asam urat, kolesterol, Gula darah, dan lain-lain. Oleh karena saya tidak rutin periksa, saya tidak cek darah dan urin. Sebab biasanya kalau pas akan cek urin ada saja alasan menjadi penghalang. Hehe.


Ternyata dengan periksa rutin dan bertemu dokter selalu ada ilmu baru, ada pengalaman yang disampaikan dan bermanfaat.


Saya sering mengajak tetangga yang usianya 50+ untuk periksa rutin ke dokter walaupun tidak sakit. Kalau ada keluhan maka akan cepat diatasi. Kalau sakit jangan sekali-sekali menjadi fokter bagi dirinya alias sok tahu. Serahkan pada ahlinya agar pengobatan bisa dilakukan secepat mungkin.


Selama ini bila pusing, saya minum parasetamol. Namun, bila pusing dam flu, saya tetap harus ke dokter. Saya tidak mau menjadi dokter bagi diri saya sendiri. Demikian pula suami. Bila sakit, suami ke dokter. Periksa gratis! Lumayan.


00000

Jumat, 03 Juli 2026

Roti Byway

 


www.noerimakaltsum.com Setiap hari Rabu Masjid Assakinah di perumahan kami menyelenggarakan pengajian berupa membaca Al Qur'an untuk ibu-ibu. Dahulu pengajian ini populer disebut pengajian iqra' karena memang pengajian sebagai sarana belajar membaca Al Qur'an dimulai dengan membaca buku Iqra' (kini sudah berjalan sekitar 20 tahunan). Cukup lama, bukan?


Ibu-ibu yang ikut belajar cukup banyak. Dimulai dari buku Iqra' 1, 2, 3, dan seterusnya. Ibu-ibu yang sudah bisa membaca Al Qur'an juga mulai dari buku Iqra' 1 sambil belajar tajwid. Di perumahan ada seorang guru agama yang juga mengajar tahsin. Jadi, kami diajar secara gratis alias tidak membayar. Banyak yang merasa terbantu dengan pengajian ini. Alhamdulillah, tiap pertemuan terdapat beberapa kelompok. Kelompok membaca dengan terbata-bata langsung diajar guru tahsin. Beberapa kelompok membaca dengan lancar biasanya sekali duduk bergantian dapat membaca 2 juz.


Pengajian iqra ini hanya pengajian kecil-kecilan. Tiap pengajian disediakan kotak infak. Infaq yang terkumpul digunakan untuk membeli air mineral, konsumsi saat khataman, konsumsi pengajian menjelang bulan Ramadhan, menyantuni kaum dhuafa dan panti asuhan, tali asih buat jemaah yang sakit, dan lain-lain.


Kadang-kadang ada salah satu jemaah yang membawa konsumsi untuk dibagikan.


Sudah lama saya tidak ikut mengaji karena ada jadwal memberi les privat. Namun, bila ada sedikit rezeki saya siapkan makanan kecil, saya titipkan pada tetangga. Biar lebih irit biasanya saya buat makanan sendiri atau belanja bahan mentah lalu saya masak. Misalnya pisang kepok, tahu bakso, agar-agar, keripik, roti (buat sendiri), dan lain-lain.


Nah, hari Rabu kemarin kebetulan ada rezeki. Saya beli pisang kepok, kerupuk, dan roti Byway. Roti Byway dengan Topping Abon Ayam Rumput Laut. Saya membeli roti Byway ini di toko tempat kulakan. Alhamdulillah, soal harga terjangkau, hanya dua ribuan rupiah. Sebelum dibagikan tentu saja saya mencicipi. Rasanya mantap betul. Manisnya pas dan ada gurih-gurihnya. 


Roti Byway cocok untuk sarapan atau dibawa sebagai bekal bila di rumah tidak sempat sarapan. Roti Byway juga bisa dijadikan buah tangan bila kita berkunjung ke rumah teman, saudara, atau kerabat. Selain itu, Roti Byway bisa disuguhkan saat ada tamu atau teman nyore (minum kopi atau ngeteh).


Roti Byway bisa dibeli di toko online dan toko terdekat. Roti Byway enak dan halal. 


Kudapan Untuk Ngaji

00000


Kamis, 02 Juli 2026

Dua Garis Merah


 

Saya yakin semua hari itu baik. Tidak ada hari tidak baik, meskipun sekarang sering mendengar ucapan apes tidak mengenal hari dan tanggal kalender. Kalau hari ini mungkin kita kena musibah atau hal yang tak mengenakkan, itu hanyalah ujian.

Manusia diuji dengan 2 hal, yakni musibah dan kebahagiaan. Bahagia itu juga ujian. Bisakah kita tambah bersyukur dan sabar dengan perasaan bahagia sewajarnya, tidak berlebihan? Kalau ditimpa musibah biasanya orang bilang diberi ujian.

Orang bahagia disebabkan oleh bermacam-macam keadaan. Bahagia karena lulus ujian, diterima kerja, mendapat jabatan, menikah, punya anak, punya keluarga yang taat menjalankan perintah agama, dan lain-lain.

Bagi orang dewasa secara materi, fisik, mental, dan bekal agama cukup siap berumah tangga. Berumah tangga berarti siap menghadapi apapun yang terjadi. Sebab, dua orang yang akan menikah akan menerima kehadiran "orang lain" dalam hidupnya. Ada mertua dan ipar yang akan menjadi bagian kisah pasangan yang menikah.

Setelah menikah sebagian besar pasangan menginginkan memiliki keturunan. Ingat ya sebagian besar, bukan semuanya. Sebab ada pasangan yang sepakat tidak memiliki anak dan merasa nyaman dengan hanya berdua dengan pasangan.

Soal menanti hadirnya keturunan masing-masing pasangan kondisinya berbeda-beda. Ada yang menunggu lama; lima tahun, sepuluh tahun, belasan tahun, sampai berpuluh tahun, Tuhan juga belum memberikan keturunan. Dua garis merah bagi pasangan ini sangat dinantikan saat perempuan telat haid.

Ada pula yang menunggu lama baru dua garis merah tapi mengalami masalah kesehatan sehingga dua garis merah pun tak membuahkan hasil alias keguguran. Ada pula yang menunggu lama, lalu hamil dan melahirkan. Namun, bayi tidak bisa bertahan hidup lama karena ada masalah pada organ tubuhnya.

Ada yang menikah lalu bulan berikutnya istri tidak mengalami haid dan positif dua gatis merah. Ibu dan bayi dalam kandungan sehat. Bayi lahir dengan selamat. Ada juga yang menikah lalu hamil tetapi harus bedrest karena mengalami pendarahan. Meskipun mengalami pendarahan tapi tetap bisa dipertahankan dan sehat sampai lahir. 

Selain pasangan pengantin, orang tua juga berharap dua garis merah pada anaknya. Ada orang tua yang cukup tenang bila anaknya belum hamil, ada pula yang panik dan langsung menghakimi. Biasanya menantu perempuan menjadi sasaran empuk bila tak kunjung mendapat keturunan.

Dua garis merah tidak semata-mata usaha pasangan suami istri tapi ada Allah Yang Maha Berkehendak. Jadi, manusia berusaha, Allah yang menentukan.


00000


00000



Kamis, 25 Juni 2026

Cara Mengolah Umbi Talas


Talas merupakan salah satu tanaman yang diambil umbinya, mengandung karbohidrat. Tanaman talas mudah ditanam. Pada lahan yang cukup anakannya berkembang dengan baik. Ada bermacam-macam jenis talas, di antaranya talas daun ungu umbi ungu dan talas daun ungu umbi putih. Kebetulan di kebun ada dua jenis talas ini.

Ternyata cara mengolah kedua talas ini juga berbeda. Sebelum dikonsumsi sebaiknya kita mengetahui cara mengolahnya.

Dulu saya pernah diberi satu buah talas umbi ungu masih ada batangnya oleh tetangga. Katanya dari Bogor. Separuh umbi saya rebus, separuh lainnya saya masukkan air.

Talas ungu rebus mempur dan enak. Tidak perlu perlakuan khusus. Tinggal direbus. Nah, yang saya masukkan air ternyata keluar tunasnya. Bibit tersebut akhirnya saya tanam dan sekarang sudah keluar anakan.

Kemarin saya mencabut salah satu talas umbi putih yang tumbuh di sekitar rumah. Umbinya cukup besar. Umbi tersebut saya biarkan di atas tanah kena panas. Tadi pagi daun dan batangnya saya siangi. 

Sebelum mengolah saya buka referensi terlebih dahulu. Talas putih bisa dikonsumsi dengan cara direbus. Getah batang, daun, dan umbinya membuat gatal dan iritasi kulit. Jadi, harus hati-hati.

Oleh karena ukuran umbinya besar, maka talas saya potong-potong. Sebelumnya saya cuci dahulu. Tangan yang saya pakai untuk memegang talas saya bungkus plastik, yang lain tidak. Ternyata tangan mulai gatal, sampai dalam. Rasanya "pating clekit".  Saya cuci dengan air mengalir lalu saya cuci dengan sabun.

Dari 2 macam talas yang saya olah, ternyata beda sifatnya. Getah talas umbi putih sangat kuat daya "membuat gatal dan iritasi". Untuk itu jangan sampai kita asal olah, asal pegang atau menggenggam.

Lebih aman kalau mau makan talas beli yang sedah matang saja. 😂

Talas yang sudah saya kupas, selanjutnya direndam dengan air garam. Entah nanti mau direbus atau tidak. Seandainya tidak saya konsumsi sendiri mungkin akan saya berikan pada ayam-ayam.

00000