www.noerimakaltsum.com Alhamdulillah, sampai saat ini saya dan suami diberikan umur panjang dan sehat. Semoga para pembaca juga demikian. Seperti biasa saya menulis tentang keseharian kami di rumah. Kali ini tentang kesehatan untuk pra lansia.
Suami saya memiliki riwayat penyakit hipertensi sejak tahun 2019. Seingat saya pertama terkena hipertensi pemicunya adalah kurang istirahat tidur. Seharian bekerja lalu dilanjutkan menjadi panitia kejurnas badminton hingga malam hari tanpa istirahat. Tensi naik. Akhirnya curi-curi waktu untuk istirahat saat berada di GOR.
Syukur alhamdulillah, pelan-pelan tensi normal setelah mencoba minum air labu siam dan obat dari dokter. Selanjutnya suami rutin kontrol ke dokter keluarga.
Tahun 2019 akhir, saya dan suami melakukan pemeriksaan kesehatan/cek kesehatan secara menyeluruh. Cek Urin, darah, rontgen, periksa jantung, dan lain-lain. Cek kesehatan ini wajib dilakukan karena mau berangkat haji ke tanah suci. Alhamdulillah, kondisi kesehatan saya baik. Hanya perlu olahraga ringan misalnya jalan kaki atau senam. Nah, hasil cek kesehatan suami terutama untuk jantung ada sedikit masalah. Suami harus periksa dan kontrol rutin ke rumah sakit. Beberapa bulan berjalan dan perkembangannya alhamdulillah sehat.
Dari tahun 2019 sampai sekarang suami rutin periksa ke dokter keluarga tiap 10 atau 20 hari sekali. Saya sering ikut menemani. Suatu saat dokter keluarga bertanya pada saya mengapa tidak sekalian periksa. Meskipun tidak sakit, untuk usia 50+ sebaiknya periksa rutin. Ya, sekadar tahu tekanan darah. Karena usia 50+ juga rentan mengalami darting alias darah tinggi.
Akhirnya saya periksa juga. Dokter juga menanyakan apakah ada keluhan misalnya sering pusing, tiba-tiba pingsan, nyeri, dan lain-lain. Selama ini aman. Biasanya pusing karena kurang tidur atau flu. Selain itu tidak.
Suami tiap 6 bulan sekali cek urin dan darah untuk mengetahui asam urat, kolesterol, Gula darah, dan lain-lain. Oleh karena saya tidak rutin periksa, saya tidak cek darah dan urin. Sebab biasanya kalau pas akan cek urin ada saja alasan menjadi penghalang. Hehe.
Ternyata dengan periksa rutin dan bertemu dokter selalu ada ilmu baru, ada pengalaman yang disampaikan dan bermanfaat.
Saya sering mengajak tetangga yang usianya 50+ untuk periksa rutin ke dokter walaupun tidak sakit. Kalau ada keluhan maka akan cepat diatasi. Kalau sakit jangan sekali-sekali menjadi fokter bagi dirinya alias sok tahu. Serahkan pada ahlinya agar pengobatan bisa dilakukan secepat mungkin.
Selama ini bila pusing, saya minum parasetamol. Namun, bila pusing dam flu, saya tetap harus ke dokter. Saya tidak mau menjadi dokter bagi diri saya sendiri. Demikian pula suami. Bila sakit, suami ke dokter. Periksa gratis! Lumayan.
00000







