AKU
DISLEKSIA
Penulis : Diba Tesi Zalziyati
Penerbit : ANDI Yogyakarta
Cetakan : Tahun 2019
Tebal : 183 + v halaman
ISBN : 978-979-29-7377-8
Disleksia
adalah gangguan neurologi, seringkali
merupakan gangguan yang diturunkan dalam satu keluarga yang memengaruhi cara
menerima dan memroses bahasa. Derajat gangguannya sendiri bisa bervariasi, ini bisa
dimanifestasikan dalam kesulitan memahami bahasa atau mengekspresikan bahasa,
atau keduanya, termasuk di dalamnya proses fonologi dalam membaca, menulis, mengeja,
menulis dengan tangan dan terkadang juga kesulitan dalam aritmetika.
Disleksia
bukan merupakan hasil dari kekurangan motivasi, kerusakan indra, ketidaktepatan
instruksi atau masalah lingkungan, kondisi lain yang terbatas, walaupun mungkin
saja bisa terjadi bersamaan dengan gejala ini. Meskipun disleksia disandang
seumur hidup, individu dengan disleksia dapat sukses dengan intervensi yang
tepat.
Buku
"Aku Disleksia" merupakan kisah cerita penulis dari kecil hingga
berkeluarga yang menyandang disleksia. Dalam buku ini diceritakan bahwa penulis
baru mengetahui dirinya disleksia setelah bekerja. Penyandang disleksia
kadang-kadang kebingungan untuk mengungkapkan atau menerangkan sesuatu,
sehingga dia akan menggunakan kata ganti ini dan itu untuk menghubungkan
sesuatu dengan yang lain.
Suatu
ketika penulis ingin mengatakan sesuatu tapi mengalami kesulitan. Seorang
dokter di klinik tempat penulis bekerja mengatakan, "Jangan-jangan kamu
disleksia, Diba." Selain kesulitan untuk mengatakan sesuatu, penyandang disleksia
juga mengalami salah dengar.
Penyandang
disleksia juga sering salah menulis, misalnya kaca mata ditulis caka tama,
panjang ditulis japang. Penulis juga mengalami kesalahan dalam melakukan suatu
pekerjaan karena antara otak dan anggota badan tidak sinkron dalam menanggapi
suatu perintah. Atau penyandang disleksia sering melakukan tindakan ceroboh
karena salah memahami suatu perintah.
Sejak
SD hingga SMA, penulis malas belajar, terutama membaca teks yang panjang.
Belajar ala kadarnya karena merasa tanpa belajar juga bisa mengerjakan tes.
Akan tetapi suatu ketika, penulis benar-benar berada di titik paling lemah dan
perlu bimbingan serta motivasi. Nilai rapor yang tidak begitu menggembirakan
dianggapnya biasa. Namun, pada saat tertentu penulis ingin mengejar pelajaran yang
tertinggal tersebut. Pada saat itulah "The Power of energy"
dikerahkan. Meskipun tidak semua mata pelajaran nilainya baik, tapi setidaknya
mata pelajaran yang diminati nilainya baik, misalnya Bahasa Inggris. Penulis
menemukan pola belajar yang sesuai.
Buku
ini sangat menarik dan perlu dibaca oleh orang tua yang memiliki putra putri
penyandang disleksia. Bagaimana penulis menjalin komunikasi dengan orang tua,
saudara, dan orang lain? Bagaimana akibat yang terjadi ketika penulis tidak
dapat menerjemahkan maksud dan tujuan pembicaraan dengan orang lain? Apakah keluarga
penulis juga ada yang mengalami disleksia atau kebutuhan khusus? Bagaimana
penulis bisa mengejar prestasi saat menjadi mahasiswa, padahal sampai semester
4 IPK kurang 2,00? Bagaimana cara penulis memecahkan setiap masalah yang
dihadapi?
Temukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan
tersebut di buku “Aku Disleksia”.
(Noer
Ima Kaltsum)
Semoga Peyandang Ujian ini segera disembuhkan Oleh Allah SWT.Amin
BalasHapusMereka bisa bekerja dengan baik mengikuti pola yang telah ditemukan. Penyandang disleksia juga banyak yang sukses
Hapusmakasih sharingnya, salah satu muridku yang berkebutuhan khusus juga ada yg dileksia. diberi ketrampilan sangat suak dan sdh banyak yang ia buat
BalasHapusAlhamdulillah, penyandang disleksia juga banyak yang sukses, bu Hastira.
Hapusbuku menarik, dulu awalnya masuk di Indscript Creative, namun belum berjodoh dengan penerbit, tetapi alhamdulillah akhirnya menemukan jodoh di penerbit Andi :)
BalasHapusSukses selalu, mbak Reffi. Semoga lahir buku-buku lainnya
Hapus